Friday, May 10, 2013

proposal penelitian


Penerapan Metode Ekstemporan Dalam Peningkatan Keterampilan Berbicara pada Siswa Kelas IX
SLTP Negeri 1 Ciomas Kabupaten Serang

Tuga Mata Kuliah Penulisan Karya Ilmiah
oleh 
Adis Rahmat S

1.      Latar Belakang Masalah
Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk waktu serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (UU RI No. 20, Tahun 2003). Berdasarkan fungsi pendidikan nasional, peran guru menjadi kunci keberhasilan dalam misi pendidikan dan pembelajaran di sekolah selain bertanggung jawab untuk mengatur, mengarahkan dan menciptakan suasana kondusif yang mendorong siswa untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas dengan baik sesuai dengan tujuan pembelajaran itu sendiri.
Belajar berbahasa berbeda dengan memelajari ilmu bahasa. Memelajari bahasa sebagai objek ilmu bertujuan untuk memeroleh pengetahuan teoretis menegenai bahasa. Belajar berbahasa adalah belajar menggunakan bahasa. Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar berkomunikasi. Oleh karena itu, pemelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pelajar dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan (Depdikbud, 1995).  
Salah satu tujuan yang ingin dicapai dalam pengajaran bahasa di SLTP, sesuai  dengan tujuan yang tercantum dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidkan (KTSP) 2006. Yakni, fokus pembelajaran berbicara di sekolah Lanjutan Tingkat Pertama yaitu  standar kompetensi bahan kajian bahasa Indonesia pada aspek berbicara adalah meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia yang baik secara lisan maupun tertulis. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidik harus mampu memilih dan menggunakan metode mengajar secara tepat dan efektif dengan mendasarkan pada pendekatan komunikatif. Penggunaan metode pengajaran oleh guru untuk menumbuhkan rangsangan bagi anak didik agar dapat menyampaikan pesan, gagasan, dan pengalaman yang menitikberatkan pada keaktifan anak didik harus lebih kreatif. Di sini guru harus berperan aktif sebagai seorang motivator.
Pendekatan komunikatif yang dipakai dalam pengajaran, khususnya untuk meningkatkan kemampuan berbicara tidak menekankan suatu metode, tetapi mencoba mengungkapkan kebenaraan jalan pikiran mengenai apa sebenarnya “komunikasi” itu. Hingga saat ini belum pasti metode mana yang paling efektif dalam mengajar keterampilan berbicara kepada siswa.
Memiliki keterampilan berpidato bagi para siswa bukanlah hal yang mudah, mengingat bahwa etika berpidato tidak hanya memerhatikan apa yang akan dibicarakan, tetapi juga bagaimana mengemukakan pendapatnya. Komunikasi antara pembicara dan pendengar tidak akan berhasil apabila pendengar tidak mengerti maksud  pembicara. Kemampuan berpidato bukanlah kemampuan yang diwariskan secara turun temurun, walaupun secara alamiah manusia bisa berbicara.
Upaya guru untuk menjebatani kesulitan yang dialami siswa, guru tidak hanya sekedar menyampaikan informasi (massage), tetapi harus mampu menekankan pada penciptaan kondisi siswa lebih aktif untuk mengembangkan ide-ide atau argumennya. Upaya yang dapat dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan, dan jawabannya berupa penjelasan atau uraian tentang pendapat. Dengan demikian terbukanya peluang siswa untuk menggembangkan gagasan atau argumentasinya yang diungkapkan secara lisan.
Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyampaikan gagasan, dan pengalaman. Sebagai perluasan dari batasan ini dapat dikatakan bahwa berbicara merupakan suatu sistem tanda yang dapat didengar (audibel) dan yang kelihatan (visible) yang memanfaatkan sejumlah alat dan jaringan otot tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan-gagasan atau ide-ide yang dikombinasikan (Tarigan 1981: 15). Keterampilan berbicara siswa tidak terlepas dari penguasaan terhadap keterampilan berbahsa yaitu menyimak, menulis, dan membaca. Dalam hubungannya dengan menyimak, keterampilan berbicara seseorang dapat diketahui dari hasil keterampilan menyimak. Untuk mengungkapkan kembali secara sistematis, anak didik harus mendasarkan pada catatan-catatan penting sebagai pengingat. Keterampilan berbicara yang baik menunjukan bahwa ia memiliki keterampilan menyimak yang baik pula.
Dalam proses belajar mangajar guru harus memberikan kesempatan pada anak didik untuk mengembangkan sendiri pesan, gagasan dan pengalamannya. Dalam hal ini unsur kebahasaan yang berupa unsur segmental dan supra segmental seperti penguasaan kosakata, konjungsi, tata kalimat, pengembangan paragraf, intonasi, penekanan, dan nada menjadi unsur sangat penting bagi anak didik dalam mengembangkan keterampilan berbicara.
Pada kenyataannya setiap sekolah mengalami problematika yang sama yaitu ketidakmampuan anak didik dalam berbicara secara sistematis. Kegagalan ini timbul karena rendahnya penguasaan kosakata, kesulitan dalam menyusun kalimat yang baik, dan ketidak mampuan mengembangkan gagasan. Disisi lain kebiasaan menggunakan bahsa ibu (bahasa Sunda) dalam berkomunikasi baik di lingkungan pendidikan maupun masyarakat memiliki pengaruh terhadap keterampilan berbicara siswa. Padahal kebiasaan menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi merupakan sarana latihan berbicara dalam menyampaikan pesan, gagasan, dan pengalaman.
Faktor lain yang berpengaruh dalam kemampuan berbicara siswa antara lain banyaknya guru mata pelajaran yang lain dalam berkomunikasi sering menggunakan bahasa sunda, selain itu gaya mengajar guru yang cenderung kurang bervariasi, latihan yang diberikan kepada siswa kurang bermakna, umpan balik serta korelasi dari guru jarang diterapkan, dan seringnya pemakaian metode ceramah serta pemberian tugas mengunakan buku LKS (lembar kerja siswa) hanya mengasilkan penguasaan pengetahuan, tidak pada pengembangan keterampilan berbicara. Oleh karena itu kebanyakan siswa menganggap kemampuan berbicara merupakan suatu hal yang biasa, bahkan kurang penting sebab nilai yang diperoleh pada mata pelajaran bahasa Indonesia secara umum tidak diambil dari kemampuan berbicara siswa.
Ketidak mampuan siswa dalam berbicara perlu segera diupayakan langkah yang kongkrit untuk menangulangi permasalahan tersebut agar siswa memiliki kemampuan berbicara yang baik dan sisteamtis, oleh sebab itulah diperlukan latihan yang rutin agar dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Untuk itu, dalam kesempatan ini peneliti akan melakukan penelitian mengenai penerapan metode ekstemporan dalam  meningkatan keterampilan berbicara pada siswa kelas IX SLTP Negeri 1 Ciomas Kabupaten Serang.
2.      Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat diidentifikasikan masalah-masalah yang dapat dibahas dalam penelitian ini antara lain sebagai berikut :
1.      Bagaimanakah kemampuan berbicara siswa kelas IX SLTP Negeri 1 Ciomas ?
2.      Apakah siswa kelas IX SLTP Negeri 1 Ciomas dapat berpidato dengan baik ?
3.      Apa sajakah kendala siswa dapam berpidato ?
4.      Bagaimanakah motivasi siswa kelas IX SLTP Negeri 1 Ciomas dalam pembelajaran berbicara khususnya berpidato ?
5.      Apakah metode ekstemporan dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa di kelas IX SLTP Negeri 1 Ciomas ?
6.      Bagaimanakah peranan metode ekstemporan dalam peningkatan keterampilan berbicara siswa ?
3.      Batasan dan Rumusan Masalah
a.      Batasan Masalah
Berdasarkan luasnya permasalahan, maka dalam penelitian ini peneliti membatasi penelitianya pada penerapan metode ekstemporan dalam meningkatan kemampuan berbicara pada siswa kelas IX SLTP Negeri 1 Ciomas.
b.      Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah yang telah disebutkan di atas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut :
1.      Apakah kesulitan siswa kelas IX SLTP Negeri 1 Ciomas dalam pembelajaran berpidato?
2.      Bagaimanakah penerapan metode ekstemporan dalam meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa kelas IX SLTP Negeri 1 Ciomas?
3.      Bagaimanakah perubahan tingkah laku yang ditunjukan siswa dalam keterampilan berbicara dengan menggunakan metode ekstemporan?
4.      Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan di atas, tujuan yang akan di capai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk megidentifikasi kesulitan-kesulitan pembelajaran pidato yang dialami siswa kelas IX SLTP Negeri 1 Ciomas.
2.      Untuk mendeskripsikan tentang efektivitas metode ekstemporan dalam meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa kelas IX SLTP Negeri 1 Ciomas.
3.      Untuk mengetahui perubahan tingkah laku yang ditunjukan siswa setelah diterapkan metode ekstemporan.
5.      Anggapan Dasar dan Hipotesis
a.      Anggapan Dasar
Anggapan dasar merupkan titik tolak pemikiran yang berguna sebagai dasar untuk melakukan penelitian atau penyelidikan. Penelitian mempunyai pegangan untuk peneliti yang merupakan titik tolak yang kebenarannya diterima oleh penyelidik (Arikunto, 1991 :66). Anggapan dasar yang peneliti kemukakan adalah :
1.      Berbicara sering diistilahkan dengan kemampuan komunikatif yaitu pengetahuan mengenai bentuk-bentuk bahasa dan makna bentuk itu, dan kemampuan menggunakannya bilamana dan kepada siapa untuk memakai bentuk-bentuk tersebut secara wajar (Utari 1993: 172).
2.      Berbicara adalah adalah mengungkapkan kalimat-kalimat untuk menerima dan mematuhi pikiran, informasi, gagasan atau pesan yang disampaikan (Arsyad 1998: 53).
3.      Berbicara oleh sebagian orang dianggap sebagai sesuatu yang biasa karena didasarkan pada suatu anggapan bahwa secara alamiah setiap orang pasti memiliki kemampuan berbicara namun, berbicara secara teratur dan sistematis dalam menyampaikan suatu pesan, gagasan, dan pengalaman memerlukan kemampuan khusus yang harus dipelajari.
4.      Kemampuan berkomunikasi secara lisan dapat dilakukan dalam bentuk berbicara didepan kelas dengan metode ekstemporan.
5.      Metode ekstemporan merupakan suatu alat bantu dalam meningkatkan kemampuan berbicara siswa, karena kegiatan berpidato sudah tidak asing lagi di telinga serta kegiatan ini sangat dekat dengan keseharian siswa.
6.      Penggunaan metode ekstemporan dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa yakni dengan menumbuhkan kemampuan siswa dalam mengembangkan ide dan gagasan pada saat berbicara, serta sekaligus dapat menuntut siswa untuk dapat memilih dan menggunakan kata-kata secara cermat dan tepat dalam berbicara.
b.   Hipotesis Penelitian
Hipotesis berasal dari kata “hypo” yang artinya “di bawah” dan “thesa” yang berarti “kebenaran”. Hipotesis dapat diartikan sebgagi jawaban sementara dalam masalah penelitian sampai dapat dibuktikan kebenarannya oleh kumpulan-kumpulan data (Suharsimi, (2006, 2006 :71). Jadi, hipotesis yang dimiliki dalam penelitian ini ialah sebagai berikut :
1.      Hipotesis Alternatif (Ha)
Ada perbedaan yang signifikan antara hasil pemelajaran berbicara dengan metode ekstemporan dibandingkan pemelajaran berbicara dengan metode-metode pidato lainya, karena siswa mampu menerapkan asepek kebahasaan dan nonkebahasaan dengan baik dalam berpidato.
2.      Hipotesis Nol (Ho)
Tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil pemelajaran berbicara dengan metode ekstemporan dibandingkan pemelajaran berbicara dengan metode-metode berpidato lainya.


6.      Kerangka Teori
A.    Hakikat Berbicara
Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyampaikan gagasan, dan pengalaman. Sebagai perluasan dari batasan ini dapat dikatakan bahwa berbicara merupakan suatu sistem tanda yang dapat didengar (audibel) dan yang kelihatan (visible) yang memanfaatkan sejumlah alat dan jaringan otot tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan ide-ide yang dikombinasikan (Tarigan 1981:15).
Adapun menurut Arsyad (1988: 53) bahwa berbicara adalah mengungkapkan kalimat untuk menerima dan mematuhi pikiran, informasi, gagasan atau pesan yang disampaikannya.
Menurut Keraf (2001: 2) bahasa merupakan suatu sistem komunikasi yang mempergunakan bunyi ujaran yang bersifat arbiter, yang dapat diperkuat dengan gerak-gerik badaniah yang nyata.
Dalam tataran berbicara, seseorang yang berbicara berusaha melalui kemampuan kebahasaan dan nonkebahasaan dalam menyampaikan pesan informasi dapat dengan mudah diterima oleh lawan bicara. Interaksi antara pembaca dan pendengar dapat terjadi secara langsung dan tidak langsung hanya terjadi satu arah. Pembicara hanya mengharapkan pendengar memahami dan menangkap makna informasi yang disampaikan.
B.     Tujuan Berbicara
Secara umum tujuan utama berbicara yaitu berkomunikasi. Menurut Keraf (2001: 320) tujuan yang akan dicapai dari berbicara seseorang yaitu : (1) Memberikan dorongan, yakni tujuan berbicara yang bersifat mendorong dimaksudkan pembicara memberikan semangat, membangkitkan gairah atau menekankan perasaan yang kurang baik serta menunjukan rasa hormat dan pengabdian. (2) Menanamkan keyakinan, tujuan berbicara yang berusaha untuk mempengaruhi keyakinan atau sikap maental atau intelektual para pendengar merupakan tujuan berbicara yang betrsifat meyakinkan atau memengaruhi. (3) Bertindak atau berbuat, tujuan berbicara ini adalah munculnya reaksi dari pendengar untuk melakukan suatu tindakan atau perbuatan. (4) Menginformasikan atau memberitahukan, yakni berbicara dengan maksud menyampaikan sesuatu agar pendengar mengerti tenteng suatu hal, untuk memperluas bidang pengetahuan yang belum pernah diketahui. (5) Memberi kesenangan atau menggembirakan, yakni berbicara pada tingktan ini tidak membutuhkan beban psikologi yang berat.
C.    Konsep Dasar Berbicara
Pengajaran berbicara di sekolah harus dilandaskan pada konsep dasar berbicara sebagai sarana komunikasi. Menurut Tarigan (1985: 4-9) mengungkapkan bahwa konsep dasar berbicara yang mencakup tiga hal, yaitu : (1) Berbicara dan menyimak adalah kegiatan resiprokal, (2) Berbicara adalah proses individu berkomunikasi, (3) Berbicara adalah ekspresi yang kreatif.
D.    Fungsi Bahasa dalam Komunikasi
Menurut Keraf (2001: 3) fungsi bahasa dapat diturunkan dari dasar dan motif pertumbuhan bahasa itu sendiri. Dasar dan motif pertumbuhan bahasa itu dalam garis besarnya dapat berupa : untuk menyatakan ekspresi diri, sebagai alat komunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial, dan sebagai alat untuk mengadakan kontrol.
E.     Kendala Berbicara
Kendala berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan yang dipengaruhi rasa cemas, khawatir, takut, dan gelisah (Tarigan, 1985 : 30). Gejala yang dialami sebagai akibat kendala berbicara antara lain detak jantung yang cepat, telapak tangan atau punggung berkeringat, nafas yang terengah-engah, mulut kering dan sukar menelan, ketegangan otot dada, tangan, leher dan kakai, tangan kakai gemetar, suara bergetar dan parau, berbicara cepat dan tidak jelas, dan lupa.  Dari gejala tersebut, ada beberapa penyebab seseorang mengalami kendala berbicara yakni :
1)      Tidak tahu apa yang harus dilakukan, pembicara tidak tahu darimana harus memulai berbicara.
2)      Orang mengalami kesulitan berbicara karena ia tahu akan dinilai.
3)      Pembicara menghadapi situasi yang sama sekali asing. Lingkungan yang asing dapat mengakibatkan kegagalan dalam berbicara.
F.     Faktor Penunjang Keefektifan Berbicara
1. Faktor Kebahasaan
Faktor yang dinilai yang menyangkut aspek kebahasaan meliputi kemampuan vokal, nada, pilihan kata (diksi), dan struktur kalimat.
a.    Vokal, yang jelas dan mantap memberikan kemudahan bagi lawan bicara untuk menangkap gagasan yang disampaikan.
b.   Nada, dan tekanan yang tepat yang diucapkan pada kata-kata tertentu mampu menimbulkan pengertian yang jelas.
c.    Pilihan Kata (diksi), hendaknya disesuaikan dengan tingkat pemahaman pendengar.
d.   Struktur Kalimat, harus mudah dipahami, pemakaian kalimat efektif dengan menghindari kalimat ambigu atau kalimat yang memiliki penafsiran ganda yang akan semakin memperjelas pemahaman.
2. Faktor Nonkebahasaan
Aspek nonkebahasaan yang dinilai meliputi keberanian tampil, kenyaringan suara, kelancaran berbicara, dan mimik atau perubahan raaut muka.
G.    Pengertian Pidato
Menurut Lukman (1993:766) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah pidato berarti mengungkapkan pikiran yang dibentuk dalam kata-kata dan ditunjukan kepada orang banyak, atau wacana yang disiapkan untuk diucapkan di depan khalayak.
Pidato merupakan alat penyampaian gagasan dan pokok-pokok pikiran kepada orang lain, gagasan dan pokok-pokok pikiran tersebut disampaikan dengan menggunakan bahasa resmi dan formal (Suhendar dan Pien 1992 : 102).
Pidato merupakan suatu keterampilan berbicara seseorang dengan baik yang mampu meyakinkan pendengarnya untuk menerima dan mematuhi pikiran, informasi, gagasan atau pesan yang disampaikannya (Arsjad dan Mukti 1988 : 53).
Dari penjelasan para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa pidato adalah salah satu keterampilan berbicara yang mengungkapkan pikiran atau gagasan, informasi,  dan pesan kepada orang lain menggunakan bahasa resmi dengan maksud untuk meyakinkan pendengarnya agar menerima dan mematuhi gagasan tersebut.
H.    Lankah-Langkah Berpidato
Tujuh langkah dalam persiapan berpidato, yaitu :
1)      Menentukan maksud dan tujuan, yakni maksud dan tujuan umum yang diinginkan dari berpidato adalah mendorong, meyakinkan, berbuat atau bertindak, dan memberitahukan.
2)      Menganalisis pendengar dan situasi, dimaksudkan untuk menentukan pilihan kata yang tepat (diksi), gaya penyampaian, tingkat kedalaman materi, dan teknik pengembangan.
3)      Memilih dan menyempitkan topik, topik yang akan disampaikan haruslah dikuasai pembicara dan pendengar, menarik perhatian pendengar dan pembicara, persoalan tidak melampaui daya tangkap pendengar, persoalan disesuaikan dengan waktu yang disediakan, dan persoalan tidak terlalu  mudah.
4)      Mengumpulkan bahan, bahan pembicaraan diperoleh dengan cara membaca, wawancara, observasi, atau pengalaman.
5)      Membuat kerangka uraian, kerangka uraian hanya memuat hal-hal poko saja yang dijadikan alat bantu dalam berpidato.
6)      Menguraikan secara mendetail, kerangka lengkap dimaksudkan tidak untuk dibaca saat berpidato tetapi sebagai gambaran pengembangan gagasan dan pilihan kata atau kalimat. 
7)      Melakukan latihan dengan nyaring, pembaca melakukan latihan kejelasan vokal atau suara, penjedaan, intonasi, tempo dan penampilan.

I.       Metode Pengajaran Keterampilan Berpidato
Menurut Keraf (2001:316) metode pengajaran keterampilan berbicara dapat dilakukan dengan metode, antara lain :
1.      Metode naskah
Metide ini memiliki keunggulan yakni, penyajian materi disampaikan secara sistematis, rinci dan mendalam.
2.      Metode hafalan
Pembicara sebelum menyampaikan gagasan melalui pidatonya harus menghafal keseluruhan isi naskah yang telah dibuat sebelumya, kemampuan pembicara dalam mengingat isi pidato menjadi faktor yang paling menentukan tingkat kesuksesan dalam berbicara.
3.      Metode impromtu
Yaitu metode pidato atau berbicara berdasarkan kebutuhan sesaat. Pembicara secara mendadak menyampaikan ide, gagasan dan pengalamannya dihadapan pendengar tanpa melakukan persiapan terlebih dahulu. Pembicara secara serta merta berbicara berdasarkan pengetahuan kemahirannya.
4.      Metode Ekstemporan
Metode ekstemporan ini dalam pelaksanaannya mendasarkan pada catatan-catatan penting yang dipakai sebagai alat bantu dalam berbicara. Metode ekstemporan memberikan fleksibilitas dan variasi dalam memilih diksi untuk mengembangkan gagasan. Pelaksanaan ceramah menggunakan metode ekstemporan, hendaknya :
1)   Siswa tidak perlu merasa takut dan canggung dalam berpidato atau berbicara di depan kelas.
2)   Gagasan dapat dikembangkan secara luas dan sistematis.
3)   Penggunaan diksi dan kalimat secara benar dalam mengembangkan gagasan.
4)   Mudah melakukan penguasaan situasi yang terjadi karena sifatnya yang fleksibel.
Kelebihan metode ekstemporan untuk meningkatkan keterampilan berbicara :
1)   Metode ekstemporan direncanakan dengan cermat dengan catatan penting, yang sekaligus menjadi urutan bagi uraian itu.
2)   Membantu pembicara untuk mengingat catatan-catatan penting agar tidak lupa.
3)   Model ini lebih banyak memberikan fleksibilitas dan variasi dalam memilih diksinya.
4)   Pembicara dapat merubah nada pembicaranya sesuai dengan reaksi-reaksi yang timbul pada para hadirin sementara uraian itu berlangsung.
7.      Metode dan Teknik Penelitian
7.1 Metode Penelitian
Menurut Surakhmad (1994 :139) menyatakan bahwa penyelidikan deskriptif tertuju pada pemecahan masalah yang ada pada saat sekarnang. Adapun tahapan metode ini adalah mengumpulkan, menyusun, mengklasifikasi, menganalisis dan menginterpretasikan data. Dalam pemeroleh data, peneliti menggunakan metode deskriptif. Metode deskriptif digunakan untuk melukiskan secara sistematis fakta/karakteristik populasi atau bidang tertentu secara aktual dan cermat. Metode deskriftif bukan hanya menjabarkan, melainkan juga menganalisis.
Metode deskriptif, melalui pendekatan kualitatif yang berupa nilai-nilai dari aspek kebahasaan dan nonkebahasaan. Sedangkan pendekatam kuantitatif hanya berupa rekapitulasi dengan metode ekstemporan.
7.2 Teknik Penelitian
7.2.1 Teknik Pengumpulan Data
Data yang akan digunakan dalam penelitian ini berupa hasil pengamatan langsung, wawancara, observasi dan catatan lapangan. Adapun rincian data tersebut adalah data perencanaan berupa persiapan guru mengajar, data pelaksanaan berupa praktik berpidato menggunakan metode ekstemporan, dan data sebelum dan sesudah melaksanakan pembelajaran berpidato.
Untuk memeroleh data yang valid dalam penelitian ini menggunakan dua instrumen pengumpulan data yaitu bentuk tes dan nontes.
1.      Tes 
Tes, digunakan untuk memeroleh hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran. Semua bentuk penerimaan yang berbentuk data yang dilakukan dengan cara merekam kejadian, menghitung, mengukur dan mencatatnya adalah salah satu usaha dalam teknik mengumpulkan data. Dalam hal ini peneliti menentukan teknik setepat-tepatnya untuk memeroleh data yang akurat, kemudian disusul dengan cara menyusun alat bantunya berupa instrument.
Menyusun instrument adalah pekerjaan yang penting dalam langkah penelitian, akan tetapi pengumpulan data jauh lebih penting. Dalam pemerolehannya data yang valid jika tidak didukng oleh instrument yang dapat dipercaya. Maka dari itu pembuatan instrument harus ditangani dengan serius agar diperoleh hasil yang disesuaikan dengan kegunaannya yaitu pengumpulan variable yang tepat. Jadi instrument penelitian merupakan alat yang digunakan dalam melakukan pengukuran, dalam hal ini alat untuk mengumpulkan data pada saat penelitian.
Adapun teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah sebgai berikut :
1)      Teknik Studi Pustaka
Studi pustaka digunakan untuk mencari dan mengkaji dasar-dasar teoritis, yang erat kaitannya dengan masalah yang diteliti dan untuk memeroleh informasi yang berguna bagi landasan teoritis bahan rujukan penelitian.
2)      Teknik Tes Lisan
Tes lisan dilakukan untuk memeroleh dan mengumpulkan data tentang pembelajaran berbicara melalui berpidato dengan menggunakan metode ekstemporan di kelas.
2.      Bentuk nontes
Alat pengumpulan data dengan bentuk nontes dipakai untuk memeroleh data, yaitu :
a.       Observasi
Observasi adalah suatu cara mengadakan evalusasi dengan jalan pengamatan untuk mengukur tingkah laku individu atau pun terjadinya kegiatan baik dalam situasi sebenarnya maupun buatan, yang tujuannya ialah menilai hasil dari proses belajar mengajar.
Dengan adanya observasi langsung ke sekolah maka peneliti mendapatkan informasi yang dijadikan latar belakang pada penelitian ini. Selain itu peneliti dapat melihat secara nyata struktur dari sekolah yang akan dilakukan penelitian dengan tujuan agar dalam menyusun penelitian ini hasil yang didapat memang benar-benar aktual dan dapat dipercaya oleh para pembaca.
b.      Wawancara
Teknik wawancara atau interview dilakukan untuk menemukan minat siswa terhadap pelajaran bahasa Indonesia dan mencatat sejumlah kesulitan yang dihadapi. Wawancara dilakukan pada siswa kelas IX SLTP Negeri 1 Ciomas menggunakan wawancara berstruktur dengan mempersiapkan sejumlah daftar pertanyaan. Pada saat wawancara, peneliti akan menulis deskripsi jawaban yang diberikan siswa.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analisis data dengan rumus
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan rumus :
                    P = F x 100 %
                          N
Keterangan :
F : Frekuensi yang sedang dicari persentasenya
N : Jumlah frekuensi / banyaknya individu
P  : Angka persentase
7.2.2 Teknik Analisis Data
Agar diperoleh kesimpulan atas penelitian yang dilakukan dan menghasilkan data yang akurat perlu dilaksanakan analisis data.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang diolah secara kuantitatif yang berupa rekapitulasi kemampuan berbicara dengan metode ekstemporan pada siklus I, siklus II, dan siklus III. Data yang diolah secara kualitatif yang berupa nilai-nilai aspek kebahasaan dan nonkebahasaan. Data-data yang terkumpul dari siklus I, siklus II dan siklus III dipersentasekan. Dengan demikian akan diperoleh persentase peningkatan keterampilan berbicara dengan metode ekstemporan. Jika hasil persentase yang diperoleh siswa lebih tinggi, berarti keterampilan berbicara dengan metode ekstemporan meningkat dan sebaliknya.
8.      Populasi dan Sampel
1.      Populasi
Populasi yang dimiliki peneliti dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX SLTP Negeri 1 Ciomas yang berjumlah 160 orang dalam 4 kelas.
2.      Sampel
Sample dalam penelitian ini diambil sebanyak dua kelas. Kelas IX.1 dengan jumlah siswa 40 orang ditentukan sebagai kelas eksperimen dan kelas IX.2 dengan jumlah 42 orang ditentukan sebagai kelas control. Dengan asumsi bahwa baik kelas eksperimen dan kelas control memiliki karakter yang sama. Teknik yang di ambil dalam penelitian ini adalah teknik acak (random sampling), dengan alasan untuk menghindari pengambilan sampel yang subjektif.
9.      Jadwal Penelitiana
Penelitian ini akan dilakukan di SLTP Negeri 1 Ciomas kelas IX.1 dan IX.2 Kabupaten Serang.
Adapun pelaksanaannya pada semester 5, dengan jumlah siswa 40 orang 19 putra dan 21 putri, yang dilaksanakan selama 10 minggu yakni mulai pada tanggal 26 Juli 2011 – 27 September 2011.


DAFTAR PUSTAKA



Ali, Lukman. 1993. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Aqib, Zainal. 2008. Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Bandung : Yrama Widya.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.

Arsjad, MG dan Mukti. Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. Jakarta : Erlangga.
Keraf, Gorys. 2001. Komposisi Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Jakarta : Gramedia.

Keraf, Gorys. 2002. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta : Gramedia.
Nababan-Sri, Utari Subyanto. 1993. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Subana. 2007. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Bandung: Pustaka Setia.

Sudjana, Nana. 2002. Penilaian Hasil-Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja.

Syamsuddin, Abin Makmun. 2004. Psikologi Kependidikan. Bandung : Rosdakarya.
Tarigan, HG. 1985. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa.

Tarigan, HG. 1986. Menyimak Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa.
Tirtarahardja, Umar. S.L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.



Wednesday, May 1, 2013


Analisis Sosiologis Berger dalam  Drama “Dam” karya Putu Wijaya
Tugas Kajian Drama

oleh 
Adis Rahmat Sukadis


Karya sastra merupakan hasil proyeksi lingkungan (pengarang, kondisi sekitar pengarang maupun kondisi lingkungan tempat karya sastra diciptakan) yang diungkapkan melalui bahasa atau dapat dikatakan karya sastra mempergunakan bahasa sebagai medianya. Karena mempergunakan bahasa di dalamnya, maka teks di dalamnya pun memuat bahasa-bahasa yang memiliki keterasingan dari bahasa yang dipergunakan sehari-hari. Analisis teks sastra menurut metode analisis Arthur Asa Berger yang memfokuskan pada hubungan sosial antar peran-peran yang ada di dalam teks sastra tersebut. Yang secara spesifik mencakup beberapa konsep utama, antara lain :
1.      Alienasi (alienation) yakni, seseorang yang teralienasi merasa seperti “orang asing” yang tidak memiliki hubungan dengan masyarakat atau beberapa kelompok dalam masyarakat.
2.      Anomi (anomie) yakni, seseorang yang menolak norma-norma yang ada dalam masyarakat.
3.      Penyimpangan (deviance) yakni, penyimpangan yang merujuk pola-pola perilaku yang dianggap berbeda dari yang sudah ada atau pada umumnya.
4.      Peran / sosial (rol/social) yakni, konsep yang merujuk jenis tingkah laku tertentu yang kita pelajari, yang berhubungan dengan harapan orang terhadap kita, yang terkait dengan situasi tertentu, yang ditentukan oleh tempat kita dalam suatu masyarakat.
5.      Jenis kelamin (gender) yakni, kontulsi sosial yang dijadikan pembeda antara individu berjenis kelamin laki-laki dan individu berjenis kelamin perempuan. Konsep ini penting ketika dikaitkan dengan peran-peran dan atribut-atribut seseorang dalam lingkungan sosialnya.
6.      Nilai-nilai (values) yakni, konsep yang merujuk perilaku seseorang, apa yang diinginkan atau tidak diinginkan, baik atau buruk, yang semua itu relatif. Nilai-nilai yang kita miliki, secara tak langsung memengaruhi perilaku kita. Nilai mencakup beragam fenomena sosial secra luas sek, politik, pendidikan dan sebagainya.
Menurut Berger manusia dan masyarakat adalah produk dialektis dinamis dan plural (dalam Eriyanto,  2001 : 13). Masyarakat adalah produk manusia, namun sebaliknya manusia adalah produk masyarakat (Eriyanto, 2001 : 17). Realitas dalam masyarakat tidak dibentuk secara ilmiah, tidak juga diturunkan oleh Tuhan, melainkan dibentuk dan dikontruksi oleh manusia itu sendiri. Dengan demikian realitas memiliki wajah ganda. Setiap orang bisa mempunyai kontruksi yang berbeda tentangnya.
Sekilas Mengenai Certia “Dam”
Drama “Dam” ini menceritakan proses persidangan kasus pembunuhan. Seorang tertuduh yang sudah melakukan pembunuhan pada seseorang tanpa motif yang jelas. Yang mana pembunuhan itu hanya dilatar belakangi oleh faktor kecemburuan sosial, karena si tertuduh merasa tidak puas akan kehidupannya yang selalu hidup menderita bahkan untuk makan saja tak mampu, sedangkan orang lain hidup bergelimang harta. Ketika ia melihat orang lain yang hidup mewah, secara seketika muncul luapan rasa kebencian yang begitu menggelegak yang mana mau tak mau harus disalurkan. Oleh sebab itulah ketika ia melihat sebuah sedan mewah bahkan terlalu mewah, secara spontan rasa benci itu muncul yang akhirnya mendorong untuk melakukan pembunuhan itu dengan sebilah celurit. Pada waktu itu secara tidak sengaja ia mengambil celurit dari seseorang yang kebetulan sedang buang air, ia menebas leher sipengendara mobil itu secara membabi buta.
Ketika ia melakukan pembunuhan itu, ia sendiri tidak tahu asal usul orang yang telah ia bunuh itu, dari mana korban mendapatkan mobil mewah itu ia sendiri pun tidak tahu. Karena yang ia tahu dengan harta sulapan itu, tak mungkin tidak semuanya itu pasti hasil penipuan, perampokan, korupsi, manipulasi yang sekarang ini lazim disebut sebagai kiat. Tertuduh beranggapan bahwa semua orang yang menggunakan mobil mewah itu adalah orang yang menghina kemiskinan negeri ini, menghina manusia yang hidup tercekek di bumi ini harus segera diberantas dan dimusnahkan. Tanpa ia mau tahu kalau sebenarnya mobil mewah itu merupakan hasil jerih payah sang korban selama ini.


Analisis Sosiologis  
Latar belakang pengarang adalah seorang budayawan yang dilahirkan di Tabanan Bali. Pengarang termasuk ke dalam kelas sosial menengah atas, yang kehidupan dan tempat tinggalnya selalu berbaur dengan masyarakat umumnya. Putu Wijaya yang sangat muak dengan kehidupan kota yang setiap hari sangat menjenuhkan, karena kecenderung orang borjuis  yang selalu mendiskriminasikan kehidupan orang miskin yang hidup sejajar dan  berdampingan dengan mereka. Bahkan mereka menganggap orang miskin sebagai sampah. Hal inilah yang kemudian yang menjadi dasar mengapa Putu Wijaya menggambarkan kembali realitas kehidupaan yang ada dalam masyarakat.
Dalam penerapan sosiologi karya sastra dalam hubungannya dengan masalah sosial,  yang dikaitkan dengan realitas kehidupan yang terjadi dalam masyarakat. Drama  ini dipahami dalam hubungannya dengan masyarakat kaum borjuis yang sara dengan kemunafikan dan individualisme masyarakat kota. Kehidupan mereka yang cenderung hanya memeikirkan kehidupan dirinya sendiri yang sukanya hanya mencari kesenangan dunia, tanpa menghiraukan kehidupan disekitarnya. Tetapi dalam persfektif kehidupannya mereka layaknya manusia tetapi, tingkah laku mereka telah dibutakan oleh kehidupan semu, karena dalam hati mereka sudah diracuni oleh naluri kebinatangan. Mereka sudah tidak mengindahkan tatak rama, moral, dan adat masyarakat timur. Dalam sosiologi isi karya sastra mengenai drama “Dam” ini dan  peramasalaha-permasalahannnya yang terdapat dalam drama tersebut dipandang sebagai refleksi dari realitas yang terjadi dalam masyarakat.
Penerapan sosiologi pembaca dan dampak sosial karya sastra dalam  drama Dam karya Putu Wijaya, sebagai karya sastra yang tergolong cukup berani karena drama ini merupakan representasi dari kehidupan masyarakat zaman Orde Baru pada waktu itu, akibatnya drama ini  banyak mendapat respon dan menimbulkan simpati masyrakat dikalangan pembaca. Drama Dam  banyak dibaca dan ditanggapi masarakat. Karena dalam drama Dam merupakan karya sastra yang mengusung makna diskriminasi dan kecemburuan sosial yang terjadi pada masyarakat. Penyetaraan terhadap status sosial masyarakat merupakan syarat terciptanya masyarakat beradab.


Motivasi para pembaca dalam membaca naskah drama “Dam” karya Putu Wijaya ini dapat dirasakan. Karena Dam mengangkat masalah-masalah yang sehari-hari biasa terjadi pada masyarakat melaui usaha-usaha yang dimainkan oleh tiap karakter yang ada dalam drama “Dam” tersebut. Bisa dikatakan “Dam” adalah karya sastra yang berusaha menunjukan perjuangan seseorang atas ketidak puasannya dalam menjalani hidup. Yang mana didalamnya drama tersebut, terdapat dialog-dialog yang ada dalam kehidupan sosial dan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam masyarakat, sehingga drama ini memberikan peluang bagi pembaca untuk menafsirkannya secara bebas. Mengenai apa yang selama ini dilihat, dialami, dan dipikirkan antara idividu dalam masyarakat, yang dianggap benar atau salah, baik atau buruk oleh masyarakat. Jadi Putu Wijaya memang berusaha menggambarkan keadaan yang ada di masyarakat tanpa memberikan penilaian secara kaku, yang pada dasarnya penulis berusaha menampilkan keadaan mayarakat seperti apa yang ada pada realita.
Sudut pandang sosiologis yang memahami karya sastra dalam hubungannya dengan realitas dan aspek sosial kemasyarakatan. Pendekatan sosiologis dilatarbelakangi oleh fakta bahwa keberadaan karya sastra tidak dapat terlepas dari realitas sosial yang terjadi dalam masyarakat. Karya sastra tidak dapat diputuskan hubungannya kondisi politik, psikologis, sosial bahkan historis ketika karya itu diciptakan. Dalam “Dam” penulis bermain-main dengan tema-tema sosial. Dalam sudut pandang yang berbeda, yaitu disepanjang cerita “Dam’ penulis menyandingkan antara keindahan dan kenikmatan dengan kematian dan kejijikan, kejahatan dan kebaikan sebagai bagian alami interaksi kehidupan antara karakter yang ada.
Individu atau pengarang yang membuat teks yang merupakan produk masyarakat yang mampu memberikan reaksi atau kontribusi baik kepada masyarakat. Pengetahuan masyarakat dikontruksikan dan disajikan pengarang kembali kepada masyarakat. Disini teks yang berupa dialog-dialog merupakan produk interaksi juga bagian dialektika yang ikut membentuk pengetahuan.
Penggunaan media bahasa dalam dialog-dialog drama “Dam” sebagai perlawanan terhadap ketidak puasan dengan usaha-usaha dari para karakter melalui penyimpangan-penyimpangan di dalamnya untuk membuat tafsiran baru yakni menentang terhadap kontruksi


sosial dalam masyrakat. Drama “Dam” adalah pemunculan karakter yang mustahil untuk mendapatkan kepuasan atas seluruh ativitas kehidupan sosial.
Dilihat dalam analisis sosiologis Berger drama “Dam” karya Putu Wijaya ini, hubungan sosial yang saling berkaitan antara peran-peran yang ada dalam  dialog-dialog tersebut  yang dibagi dalam beberapa konsep utama, antara lain sebagai berikut :
1.      Alienasi
Gejala alienasi ini dipelihatkan dalam dialog yang diucapkan oleh para tokoh-tokohnya yang digambarkan melalui kalimat-kalimat berikut :
Dalang     : Mukanya berat bagaikan durian busuk dan suaranya mendendam seperti pisau bedah. Berbeda dengan politikus atau seniman, ia sama sekali tak mengelak atau mencoba mengaburkan apa yang sudah dikerjakannya.
Tertuduh : Aku tak kenal orang ini. Sampai sekarang pun aku tidak tahu siapa dia. Itu salah dia, kenapa aku sampai tidak tahu siapa dia. Kenapa dia melintas dengan mobilnya ketika aku ingin menebas.
Dalang   : Ya saya juga iri kalau liat istri orang lebih cantik, kalau rumahnya lebih hebring atau kalau mobilnya lebih wah. Tapi itu hanya sampai tingkat perasaan tok. Perasaan tok. Tidak ada tindakan sosial.
Tertuduh : Tetapi jangan sekali-kali aku diperlakukan begini, seperti binatang yang tidak punya hak bicara. Aku bukan tidak tahu meskipun aku bilang tidak tahu! Coba buka telinga kalian buka mata kalian. Buka telinga dan mata hati kamu yang ada didalam san lebar-lebar.
Interpretasi :
“Dam’ merupakan representasi tokoh yang “mustahil” yang menunjukan hasil resepsi sistem politik yang sarat kekerasan. Bentuk kekerasan itu sendiri representasi laki-laki dalam masyarakat yang merasa tidak puas akan kehidupan yang dijalaninya, karena ia hidup dalam dunia yang serba kekurangan. Bentuk tekanan hidup yang berasal dari pertentangan antara rasionalitas dengan emosi yang selalu mendominasi dalam setiap aktivitasnya. Puncak dari emosi yang merupakan representasi masyarakat yang berupa ketidak puasan akan keberhasilan seseorang, yang pada akhirnya menguasai dirinya atau logika normalnya untuk menentukan saat kematiannya sendiri. Emosi yang menguasai dunia nyata atau realitas yang menjadi tujuannya dan tindakan yang didasarkan pada emosi yang ada pada dirinya.
2.      Anomi
Gejala anomi ini dipelihatkan dalam dialog yang diucapkan oleh para tokoh-tokohnya yang digambarkan melalui kalimat-kalimat berikut :
Tertuduh : Tidak! Ini bukan dendam. Bagaimana bisa dendam kalau aku baru satu kali itu melihat dia. Mobilnya terlalu bagus dan mulus. Aku benci semua mobil dan seluruh isinya, khususnya mobil-mobil berkelas yang menghina kemiskinan negeri ini. Menghina semua manusia-manusia yang hidup tercekek di bumi ini. Barang-barang rakitan pabrik yang dibuat oleh negeri-negeri kaya untuk memeras negeri-negeri miskin itu, ternyata sudah lebih dari manusia ciptaan Yang Maha Kuasa.
Tertuduh  : Aku menggugat, aku tersinggung! Bagaimana bisa ada orang memiliki begitu banyak uang dari hasil jerih payahnya sendiri, sementara orang lain untuk makan saja tak mampu.
Tertuduh  : Aku tidak pernah dididik untuk paham, untuk melihat kebenaran, untuk menyadari di dalam kemewahan itu masih ada sisa kebaikan! Aku sudah dipenggal dari kenyataan! Aku, kami semua sudah terbunuh.
Interpretasi :
Karakter tertuduh menyajikan gagasan bahwa kehidupan yang serba kekurangan dapat memicu luapan rasa kebencian dan emosi yang berlebihan, kemudian berujung pada tindakan-tindakan anarkis, karena faktor diskriminasi dan kecemburuan sosial yang terjadi pada masyarakat.
3.      Penyimpangan
 Gejala penyimpangan ini dipelihatkan dalam dialog yang diucapkan oleh para tokoh-tokohnya yang digambarkan melalui kalimat-kalimat berikut :
Dalang  : Ketika kaca jendela dibuka, ia langsung mengayunkan ceruritnya. Setelah itu mendorong mobil itu masuk selokan dan kemudian membakarnya disitu.
Tertuduh : Tapi keinginan apa? Aku tak pasti betul, keinginan membunuh atau apa. Pokonya tiba-tiba ada luapan rasa benci, benci. Kebencian itu begitu menggelegak, harus disalurkan. Aku tak bisa menahannya. Akhirnya aku ambil saja celurit dari orang yang kebetulan sedang buang air. Celurit itu kuayunkan ke arah leher pengendara mobil itu.
Tertuduh : Hanya saja salahnya, kenapa ia mendapatkan semua itu sementara aku, kami semua tidak dapat apa-apa. Mau tak mau akhirnya ia jadi orang yang bersalah, karena berhasil mencapai sukses sementara kami semuanya gagal total tanpa sebab yang masuk akal.
Interpretasi :
Bentuk penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan tokoh tertuduh merepresentasikan kecemburuan sosial yang terjadi di masyarakat, yang mana ia melakukan pembunuhan tanpa alasan yang jelas, ia membunuh karena hanya ingin membunuh saja tanpa ia tahu siapa orang yang ia bunuh. Apakah orang yang ia bunuh orang baik atau tidak baik.
Karakter tokoh tertuduh ini merupakan perlawanan atas kehadiran nilai dan norma dalam masyarakat yang meliputi bentuk penguasaan dan penerapan kekuasaan yang diterapkan pada sistem hukum dan institusi  pemerintahan.
Perlawanan dalam suatu reaksi penguasaan emosi menunjukan bahwa ada suatu posisi lain tempat sesorang dapat menunjukan situasi itu pada dirinya. Pemberian label menyimpang dalam fungsi normalisasi agar sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat yang menunjukan dalam berbagai bentuk kekuasaan individu memasukan emosialitas dalam tubuh sebagai penyimpangan perilaku yang berperan sebagai dampak dan alat ketidak puasan seseorang.   
4.      Peran / Sosial
Konsep  ini dipelihatkan dalam dialog yang diucapkan oleh para tokoh-tokohnya yang digambarkan melalui kalimat-kalimat berikut :
Tertuduh : Siapa yang telah membimbingnya kedepan perasaanku. Jangan-jangan dialah yang datang membawa dorongan membunuh itu. Itu kemungkinan yang lain. Kalau begitu aku adalah korbannya.
Jaksa     : Saudara tak punya hak untuk iri! Kalau saudara ingin naik mobil seperti dia, kerja keras dong. Banting tulang, kalau perlu ngerampok, maaf ini hanya contoh, terserah itu urusan saudara pribadi.
Hakim     : Tapi apa kamu tidak tahu juga, bahwa orang-orang itu juga seperti kamu?
Jaksa   : Asal saudara tahu saja, orang yang saudara bunuh itu adalah seorang anggota masyarakat yang setiap hari tak pernah lupa membeli SDSB yang oleh ibu menteri sosial dalam wawancara RCTI tengah bulan Mei lalu dipujikan sebagai sumbangan pada negara.
Interpretasi :
Dialog-dialog dalam naskah drama “Dam” ini sesuai dengan konsep cermin bahwa kayra sastra sebagai tiruan kehidupan masyarakat. Dialog tersebut menunjukan bahwa kontruksi sosial akan identitas seseorang yang didasarkan pada peran individu dalam masyarakat, yang selalu menganggap orang miskin sebagai kaum yang selalu ditindas oleh kaum borjuis. Yang mana faktor inilah yang memicu timbulnya pelawanan orang miskin terhadap kaum borjuis melalui penyimpangan perilaku dan emosi yang memuncak, dengan penyelesaiannya membunuh semua orang kaya tanpa satu alasan yang pasti. Hal inilah yang diakui sebagai kegelisahan penulis akan peran dan aktivitas kehidupan dalam masyarakat.
5.      Gender
Konsep gender ini dipelihatkan dalam dialog yang diucapkan oleh para tokoh-tokohnya yang digambarkan melalui kalimat-kalimat berikut :
Tertuduh : Aku lihat sendiri para wanita pembantu terbungkuk-bungkuk mencuci berhala itu pagi-pagi buta. Aku lihat dia menguasai jalanan yang kita biayai milyaran rupiah dari hutang yang akan ditanggung anak cucu.
Dalang   : Pemuda itu tertawa. Ia tertawa bukan karena geli atau ingin mengejek sinis. Ia tertawa untuk mengambil nafas menekan dirinya sendiri.
Interpretasi :
Status sosisal sesorang dalam masyarakat yang didasarkan pada jenis kelamin tertentu dengan perilaku dan sifat yang melekat dalam drama “Dam” ini menunjukan bahwa ketidak puasan sesorang, karena ia menjalani kehidupan yang pahit. Bagaimana tokoh tertuduh mengangap kaum wanita telah dijadikan budak oleh perkembangan zaman untuk mencuci berhala, yang dalam hal ini direpresentasikan sebagai sebuah kendaraan mewah. Dalam hal ini kaum wanita tidak sanggup melawan arus nilai-nilai sosial dalam masyarakat, karena mereka takut hidup sengsara dalam menjalankan kehidupannya dan direndahkan oleh orang lain.
6.      Nilai-Nilai
Bentuk nilai-nilai ini dipelihatkan dalam dialog yang diucapkan oleh para tokoh-tokohnya yang digambarkan melalui kalimat-kalimat berikut :
Tertuduh : Aku tidak tahu. Aku hanya menjalankan apa yang kurasa benar. Aku tak sengaja mempergunakan cerurit, karena itulah senjata yang ada di pinggir jalan ketika keinginan itu muncul.
Jaksa     : Dengan menaiki mobil itu, menurut pengakuan keluarga dan catatan hariannya, ia ingin membalas penghinaan terhadap harga diri manusia, karena ia akhirnya ia berhasil memperkuda benda yang seumur hidupnya sudah menyisihkan dia di jalan raya.
Dalang   : Ia mengaku ia sudah berusaha keras. Bahkan begitu keras supaya hidupnya bisa berarti. Bahkan ia sampai membeli lotre dan ke dukun mencari jalan, tetapi tetap saja nasibnya tidak bergerak, hidupnya tidak pernah bisa mapan.
Interpretasi :
Melalui dialog-dialog dalam drama “Dam” Putu Wijaya menentang kontruksi dan nilai-nilai umum yang berlaku dalam masyarakat bahwa kecemburuan sosial dan emosi yang memuncak  merupakan pemicu tindakan-tindakan anarkis seseorang. Putu Wijaya juga menganggap penyetaraan terhadap status sosial masyarakat merupakan syarat terciptanya masyarakat beradab. Serta pemberian kesempatan bagi orang miskin untuk dapat menikmat hidupnya dan meraih semua impiannya, yang merupakan salah satu cara untuk melakukan perubahan kehidupan sosial yang lebih baik.
Simpulan :
Pertentangan yang terjadi antar karakter-karakter dalam drama ini merupakan bentuk tekanan hidup yang berasal dari pertentangan antara rasionalitas dan emosi yang selalu mendominasi dalam setiap aktivitasnya. Karakter tersebut yang berusaha tidak menerima norma-norma yang lazimnya terdapat pada masyarakat dan karakter tersebut tidak percaya akan kemampuan manusia untuk melakukan perubahan dalam kehidupan sosialnya. Puncak dari emosi yang merupakan representasi masyarakat yang berupa ketidak puasan akan keberhasilan seseorang. Emosi yang menguasai dunia nyata atau realitas yang menjadi tujuannya dan tindakan yang didasarkan pada emosi yang ada pada dirinya. Inilah yang diakui sebagai kegelisahan penulis akan peran dan aktivitas kehidupan dalam masyarakat.  

MATERI PEMBELAJARAN KELAS 9 BAB 1: MELAPORKAN HASIL PERCOBAAN

  MATERI PERTEMUAN KE 1 & 2 E-LEARNING KELAS IX MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA Oleh: Adis Rahmat S., M.Pd.     bab 1  melap...